A Housewive Tale

Posted in Tak Berkategori on April 13th, 2011 and

Saya tak bisa merasa lebih beruntung dari sekarang. Saya punya kekuatan buat memilih menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. Ketika dua asisten hengkang dari rumah dan saat ini masih mencari pengganti. Mau tak mau semua pekerjaan yang biasanya saya delegasikan bertahun-tahun, sekarang harus turun tangan sendiri menyelesaikan.

Mengeluh,

Tidak sama sekali! Saya sering bercerita rumah saya itu akademi ibu rumah tangga. Dan ibu saya sebagai pendiri, kepala sekolah sekaligus satu-satunya staf pengajar. Ada masa-masa saya menangis dan mengganggap beliau begitu kejam, perfeksionis akut dan susah dipuaskan. Tak ada hasil yang menyenangkan buatnya. Kalau kurang bersih ulang, ulang. Mom memang guru paling killer yang pernah saya punya. Meski ia punya tuntutan pada kami putri-putrinya harus bisa mengerjakan tugas domestik dengan baik akan tetapi tiap malam ia selalu menekankan pada kami menjadi perempuan mandiri. Dalam kamusnya berpenghasilan sendiri. Nanti kalian kalau sudah rumah tangga tetap kerja yah. Jangan enggak, kalian jangan tergantung sama suami,ujar tiap kali sejak saya masih ijo sekaligus.

Penderitaan tak berujung menjadi upik abu membuat saya bersumpah kalau nanti saya punya rumah, harus ada asisten domestik. Percaya atau tidak hal itu juga menjadi harga mati yang saya tawarkan ketika mau menikah tujuh tahun yang lalu.

Dan, seluruh didikan ibu saya berbuah hasil saat ini. Perlu dicatat saya tak pernah lulus dengan nilai memuaskan di akademi belasan tahun itu. But, I forever thank you mom.

Saya istri pemalas tentu saja. Saya mengandalkan asisten 100% itu tak diragukan. Tapi ketika mereka tak ada saya tak pernah kesusahan melakukan hal yang saya delegasikan tersebut.

Mom selalu mengkritik saya melakukan pemborosan dengan membayar orang melakukan pekerjaan yang bisa saya lakukan sendiri dengan lebih baik. Menurutku itu omong kosong. Pekerjaan mereka baik-baik saja dan saya tak akan jauh lebih baik mengerjakan itu semua.

Saat ini saya sepertinya mulai menikmati segala pekerjaan yang saya benci dulu, seperti menyetrika. Pekerjaan yang selalu mendapat kritk habis-habisan dari mom. Dulu buatku mom ibu rumah tangga gila yang mengejar kesempurnaan. Seperti potongan wortel yang harus terlihat sama besar. Kupasan kentang yang tipis, hingga ulekan bumbu yang halus. Dan kalau kau tahu telur dadar buatan ibuku bulat sempurna seperti dicetak.Gila!

Sekarang,

Aku mengerti mengapa mom mencoba melakukan segalanya dengan sempurna. Bukan saja karena hanya itulah satu-satunya yang ia kerjakan setiap hari. Ia bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan seadanya dan tak akan ada yang protes. Dia adalah ratu yang mempunyai kekeuasaan absolute di rumah. Jika ia memutuskan tak ingin memasak kami akan dengan patuh melipir mencari makan di luar. Atau kalau pun keliman rok sekolah kami tidak selicin lapisan es mall Taman Anggrek, kami tetap akan mengenakannya dengan senang hati. Pun jika seragam putih kami agak menguning tak akan jadi masalah besar buat kami.

Apalagi Bapak, apapun yang tersaji oleh mom akan lahap disantapnya. Kalaupun mom lupa menaruh gula pada kopinya ia akan tersenyum mengatakan bahwa kopinya manis sekali. Dan meneguknya tanpa terlihat kepahitan. Catat bapak adalah manusia pecinta manis nomor satu yang pernah saya kenal hingga saat ini. Mungkin itu sebabnya ia menikahi mom. Habis mom manis *halah*

Setelah menikah saya mengerti bahwa ada banyak hal yang tak bisa saya kontrol. Banyak ketimpangan dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. My friend call it: life suck theory *colek baba* Banyak hal yang sepertinya salah terjadi. Hidup penuh cacatnya. Tapi ada hal yang setidaknya bisa dilakukan dengan benar dan sesempurna mungkin. Meski hanya sebuah keliman baju dan potongan dadu tempe yang sempurna.

Happy Woman’s Day

Posted in Tak Berkategori on Maret 8th, 2011 and

Because women’s work is never done and is underpaid or unpaid or boring or repetitious and we’re the first to get fired and what we look like is more important than what we do and if we get raped it’s our fault and if we get beaten we must have provoked it and if we raise our voices we’re nagging bitches and if we enjoy sex we’re nymphos and if we don’t we’re frigid and if we love women it’s because we can’t get a “real” man and if we ask our doctor too many questions we’re neurotic and/or pushy and if we expect childcare we’re selfish and if we stand up for our rights we’re aggressive and “unfeminine” and if we don’t we’re typical weak females and if we want to get married we’re out to trap a man and if we don’t we’re unnatural and because we still can’t get an adequate safe contraceptive but men can walk on the moon and if we can’t cope or don’t want a pregnancy we’re made to feel guilty about abortion and…for lots of other reasons we are part of the women’s liberation movement. ~Author unknown, quoted in The Torch, 14 September 1987

Sexist

Posted in Tak Berkategori on Januari 28th, 2011 and

Suatu pagi yang cerah Penyu melakukan hal luarbiasa. Suatu kegiatan di luar kebiasaan umumnya. Mengantarkan kecebong bungsu berangkat sekolah.

Buat Penyu ini hal yang sangat berarti, dia begitu bersemangatnya. Sepanjang jalan mengajak sang anak bernyanyi dan bercanda. Penyu ingin perjalanan singkat yang jarang terjadi ini menjadi istimewa.

Ia sering mendapat cerita-cerita baik dan menyenangkan dari guru kecebong bungsu. Betapa baik dan pintarnya sang anak. Sesampainya di gerbang Kelompok Bermain Happy Kids itu, Penyu mendapat kejutan yang menyenangkan. Betapa sang anak ini juga begitu popular dan disukai teman-teman sebayanya.

Banyak sekali anak-anak perempuan kecil yang lucu memanggil-memanggil sang anak. “Kecebong 2, Kecebong 2,” begitu ujarnya. Tapi yang dipanggil mukanya lurus, jangankan tersenyum melirik pun tidak.

“Nak, kamu dipanggil tuh,” tegur Penyu lembut. Kecebong bungsu tetap cuek bebek. Bahkan saat Penyu menghentikan langkah buat menyapa angsa-angsa mungil cantik tersebut. Kecebong bungsu tetap berjalan lurus menuju kelasnya.

“Hei, apakah sikap yang baik saat cuek ditegur kawan?” protes Penyu dengan nada rendah tapi tegas sambil memandang lekat-lekat Kecebong bungsu.

“Mereka bukan temanku,” tegasnya

“Kenapa begitu?”Penyu bingung sekaligus penasaran.

“Karena mereka perempuan.”

Jawaban yang membuat Penyu seperti disambar gledek. Setelah berhasil mengendalikan diri dalam hitungan detik, Penyu bertanya kembali, “Apa salahnya berteman dengan perempuan?”

“Mereka aneh!”

Penyu mengerutkan dahi menuntut penjelasan lebih lanjut dari calon pangeran kataknya yang berusia lima tahun setengah ini.

“Aneh?!?!”

“Iya aneh dan berisik,”lanjut si kecil.

“Berisik?!?!”

“Aneh bundaaaaa, anak perempuan itu aneh. Lihat rambutnya banyak benda, sepatunya juga aneh, trus loncat dikit teriak, kena air dikit teriak, lari teriak. Mereka aneh dan selalu berisik,”jelas si pangeran katak kecilnya.

Usai penjelasan itu bel pun berbunyi. Semua malaikat kecil itu pun beriringan memasuki ruangan kelas. Tinggal Penyu yang tetap jongkok dengan sejuta pikiran berkecamuk.

10 tahun lalu saat masih duduk di bangku kuliah, ia pernah membaca fotocopy-an sebuah bab dari buku. Tugas kuliah membuat paper. Judul bab yang diterima Penyu kalau tidak salah “Becoming Man”. atau judul bukunya yah. Penyu tak mampu mengingatnya dengan pasti

Akan Tetapi dalam bab itu ada bagian yang menjelaskan tentang anak lelaki kecil melihat sosok anak perempuan sebayanya. Sama seperti pangeran kataknya melihat teman-teman sekarang. Aneh.

Yang Penyu tak menyangka, bahwa sebuah paper yang pernah ia tulis sebagai tugas kuliah. Membuatnya menghabiskan malam mengulas hal tersebut.

Saat ini ia harus menghadapi praktiknya. Dan sebanyak apapun buku yang pernah ia baca. Tak ada satu pun yang mampu membuatnya bereaksi santai saat dihadapkan pada kenyataan yang mirip dengan buku sosiologi tersebut. Bahkan Penyu tak mengerti harus berbuat apa? Berkata apa?

Penyu sadar bahwa ini adalah Peer-nya. Projectnya ke depan membentuk seorang pangeran yang berwawasan gender nantinya. Atau ini hanya reaksinya yang berlebihan, berpikir terlalu jauh.

Apapun itu? Ia tahu ia harus tetap duduk manis bersama pangeran kataknya. Kita akan banyak bicara soal perkawanan serta perbedaan jenis kelamin. Tak ketinggalan cara menyikapi perbedaan tersebut dengan baik. Dan tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti oleh anak berusia lima tahun setengah.

Baby On Board

Posted in Tak Berkategori on Januari 28th, 2011 and

Nggak perlu dikasih tahu lagi buat pengendara mobil bahwa seat belt demi keamanan. Air bag aksesori penting yg seharusnya jadi perhatian kalau ini memodifikasi mobil. Begitu pun helm bagi pengendara motor.

Tetapi ada sesuatu yang luput dari para pemiliki kendaraan, terutama mobil. Keselamatan dari sosok mungil yang menjadi curahan segala kebanggaan, kasih sayang bahkan kebahagiaan. Yah anak-anak kita.

Saya hampir tak pernah melihat seorang bayi atau balita yang duduk manis di car seat-nya saat dalam perjalanan. Meski di sebuah mobil bagus pun. Bayi atau balita tersebut dipangku manis oleh baby sitternya.

Yang sering terlihat justru stiker besar bertulisan Baby On Board. Seperti sebuah peringatan bahwa ada anak-anak yang sedang berpergian di dalam. Penyu dan X sering memerhatikan stiker itu dan sebisa mungkin menjaga jarak aman dengan mobil tersebut. Mungkin karena kami punya anak. Jadi mudah sekali berempati dengan stiker tersebut.

Tapi apakah semua orang seperti itu? Jawabannya saya tidak tahu. Lalu, kenapa tak menyediakan tempat duduk khusus di dalam mobil buat balita atau bahkan bayi Anda? Kalau hal tersebut jawabannya tentu hanya Anda sendiri yang bisa menjawab.

Baiklah baby car seat bukan barang yang murah, sama dengan kereta dorong atau susu formula yang diberikan pada buah hati Anda. Atau perhiasan emas yang juga sering dikenakan pada bayi perempuan.

Belum lagi kita harus mengganti sesuai usianya. Karena pertumbuhan anak-anak sangat pesat dan disesuaikan dengan perkembangan fisiknya juga. Mmm….. peer yah.

Tapi kalau kita sepakat mereka tak ternilai harganya dan kalau kita menempatkan hal itu juga sebuah kebutuhan buat bayi sama seperti kebutuhan lainnya. Masihkah akan terasa mewah atau mahal? Bukankah kita dengan sendirinya akan membuat perencanaan buat yang satu ini kalau saja kita menganggap penting dimiliki.

Dengan menabung, mengorbankan beberapa kebutuhan yang tidak mendesak, atau mengurangi kesenangan (belanja, jalan-jalan, makan enak, atau rokok) buat membelinya.

Rome doesn’t not build in one day iya gak. Semua bisa direncanakan jauh-jauh hari. Berburu di sebuah garage sale, membeli dari teman, kenalan, kenalannya teman yang sudah tidak membutuhkan lagi. Selalu ada jalannya. Yang dibutuhkan hanya kesabaran pengorbanan beberapa kesenangan pribadi. Dan yang pasti perhatian lebih pada keselamatan penumpang kecil kita.

Happy Safety Driving