Peta Hidup

3 Jan 2011

Saya setuju bahwa cantik itu tidak harus berkulit seputih kapas. Godaan tampil memiliki kulit putih cermelang seperti iklan produk kecantikan di media massa tak berpengaruh apapun bagi saya. Justru sebaliknya saat memilih produk kecantikan, produk yang mengandung pemutih otomatis akan saya eliminasi. I like my skin the way it is and I never feel less beautiful because of it. Sombong? Menurutku tidak! Ini bukan kesombongan tapi PD.

Tetapi, godaan memiliki kulit yang halus dan mulus seperti model lingerie Victoria’s Secret menjadi obsesi terpendam sendiri. Saya ingin kulit halus itu, tanpa bekas luka, selulit apalagi stretch mark.

Sejak remaja saya pun rutin merawat kulit tubuh. Ingatan pun terlontar ketika berusia 15 tahun. Saat itu saya pernah membuat sumpah diam-diam. Bila dewasa nanti saya akan melakukan perawatan kulit terbaik serta menyisihkan uang buat menghilangkan segala bentuk codet di kulit.

Yang menjadi kejutan adalah betapa mahal semua itu. Pengeluaran buat perawatan kecantikan, belum lagi pakaian, sepatu ya, ampun bikin sakit kepala. Apalagi setelah memiliki anak rasanya mustahil. Tidak hanya dari sisi financial tapi juga waktu. Apalagi waktu baru melahirkan dan mempunyai bayi jangankan luluran, keramas saja merupakan sebuah previllage.

Sekarang tentu saja saya punya tiga jam penuh merawat tubuh tanpa gangguan. Perawatan kecantikan sendiri adalah langkah paling bijak mengingat keterbatasan waktu dan biaya. Tentu saja saya masih menyimpan that secret vow of mine. Suatu hari nanti saya akan mampu menghilangkan semua codet-codet ini.

Saat menulis ini saya sedang menikmati secangkir kopi hitam dan baru saja menuntaskan sesi perawatan tubuh pribadi. It feels good, you feel clean and recharge. Seperti biasa sebagai sentuhan akhir saya pasti akan membubuhkan body butter ke seluruh tubuh dengan pijatan ringan.

Saat melihat bekas-bekas luka yang saya benci itu, hingga mengeluarkan sumpah palapa akan menyingkirkan mereka satu persatu. Kali ini yang teringat adalah kenangan tentang luka-luka itu.

Setiap luka memiliki cerita sendiri, my biografi. Oh, tidak luka tersebut tidak bercerita sesuatu yang hebat seperti mungkin luka perang yang didapat Joan of Arc atau Cut Nyak Dien.

Seperti bekas luka di lutut yang ini. Bekas paling besar yang aku paling benci. Luka ini di dapat suatu malam setelah melewati hari melelahkan sebagai seorang ibu dua balita yang hanya berselang umur 11 bulan. Saat itu mereka berusia tiga dan dua tahun. Malam itu setelah mereka tertidur (akhirnya). Dan saya mencuri waktu buat merokok di lantai atas. Karena takut mereka terbangun maka saya berlari ke lantai atas dan jatuh. Lutut ini tergores pingiran anak tangga. Hahahaha, pengorbanan yang saya lakukan buat sekedar sebatang barang tak sehat itu.

Atau bekas luka di samping lutut kiri. Hahahaha, ini lebih konyol lagi.. Aku ingat usiaku 16 tahun dan punya kebiasaan gila menyanyi sambil menari-nari kesetanan diwaktu senggang dan tentu saja saat tak ada orang. Saking semangatnya saya menabrak pinggiran meja kaca keras. Dan kaki saya tertancap di situ. Lucunya, saat orang tua bertanya, saya bilang jatuh habis main basket di carport rumah. Dan saat itu saya benci aktivitas sport jenis apapun. Lain lagi cerita yang kukarang waktu teman-teman sekolah bertanya. Jawaban yang terlontar adalah luka ini karena tersangkut kawat malam-malam memanjat pagar rumah menemui pacar yang saya tak punya. Tiba-tiba saya terlibat hubungan backstreet imajiner hanya karena sebuah luka konyol hahahaha.

Mmm dan yang di paha sebuah bulatan kecil bekas bisul waktu SD. Aku ingat bisul itu parah sekali hingga membuatku tak bisa berjalan dan harus membolos. Oh yang di betis juga sama. Waktu yang berbeda tapi dengan alasan sama: Bisul. Saking parahnya masih menyisakan bekas hingga sekarang. Dan aku yakin codet ini asal muasal dari sumpah palapa tersebut. Gak keren yah.

Sejenak menoleh ke kaca melihat bekas luka kecil di bawah hidung. Bekas luka yang di dapat dari sakit cacar air. Tak ada yang spesial memang, tapi yang membuat hal ini istimewa saya terserang cacar saat berusia 17 tahun. Saya ingat usaha setengah gila agar cacar itu tidak meninggalkan bekas. Dan harus kecewa saat bekas justru muncul di wajah.

Ya, bekas luka tersebut tidak bercerita tentang sebuah kecelakaan tragis ataupun olahraga ekstrem yang saya jalanin (emang pernah?). Bekas luka itu didapat dengan segala tingkah konyol, tak menarik, memalukan dan bahkan tidak penting. Dan tak kurang cerita yang mengawali serta mengikuti goretan codet yang membuat kulitku cacat tak sempurna. Codet yang sekarang ini lebih seperti sebuah peta hidup milikku.

Kesimpulannya saya tak ingin menghilangkan peta hidup saya. Apalagi kehilangan momen seperti sore ini. Sebuah peristiwa yang tanpa sengaja melemparkan saya pada sebuah kenangan konyol. Dan pastinya bikin tertawa cekikikan sendiri. They are might be not cool but those are mine.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post