Sexist

28 Jan 2011

Suatu pagi yang cerah Penyu melakukan hal luarbiasa. Suatu kegiatan di luar kebiasaan umumnya. Mengantarkan kecebong bungsu berangkat sekolah.

Buat Penyu ini hal yang sangat berarti, dia begitu bersemangatnya. Sepanjang jalan mengajak sang anak bernyanyi dan bercanda. Penyu ingin perjalanan singkat yang jarang terjadi ini menjadi istimewa.

Ia sering mendapat cerita-cerita baik dan menyenangkan dari guru kecebong bungsu. Betapa baik dan pintarnya sang anak. Sesampainya di gerbang Kelompok Bermain Happy Kids itu, Penyu mendapat kejutan yang menyenangkan. Betapa sang anak ini juga begitu popular dan disukai teman-teman sebayanya.

Banyak sekali anak-anak perempuan kecil yang lucu memanggil-memanggil sang anak. “Kecebong 2, Kecebong 2,” begitu ujarnya. Tapi yang dipanggil mukanya lurus, jangankan tersenyum melirik pun tidak.

“Nak, kamu dipanggil tuh,” tegur Penyu lembut. Kecebong bungsu tetap cuek bebek. Bahkan saat Penyu menghentikan langkah buat menyapa angsa-angsa mungil cantik tersebut. Kecebong bungsu tetap berjalan lurus menuju kelasnya.

“Hei, apakah sikap yang baik saat cuek ditegur kawan?” protes Penyu dengan nada rendah tapi tegas sambil memandang lekat-lekat Kecebong bungsu.

“Mereka bukan temanku,” tegasnya

“Kenapa begitu?”Penyu bingung sekaligus penasaran.

“Karena mereka perempuan.”

Jawaban yang membuat Penyu seperti disambar gledek. Setelah berhasil mengendalikan diri dalam hitungan detik, Penyu bertanya kembali, “Apa salahnya berteman dengan perempuan?”

“Mereka aneh!”

Penyu mengerutkan dahi menuntut penjelasan lebih lanjut dari calon pangeran kataknya yang berusia lima tahun setengah ini.

“Aneh?!?!”

“Iya aneh dan berisik,”lanjut si kecil.

“Berisik?!?!”

“Aneh bundaaaaa, anak perempuan itu aneh. Lihat rambutnya banyak benda, sepatunya juga aneh, trus loncat dikit teriak, kena air dikit teriak, lari teriak. Mereka aneh dan selalu berisik,”jelas si pangeran katak kecilnya.

Usai penjelasan itu bel pun berbunyi. Semua malaikat kecil itu pun beriringan memasuki ruangan kelas. Tinggal Penyu yang tetap jongkok dengan sejuta pikiran berkecamuk.

10 tahun lalu saat masih duduk di bangku kuliah, ia pernah membaca fotocopy-an sebuah bab dari buku. Tugas kuliah membuat paper. Judul bab yang diterima Penyu kalau tidak salah “Becoming Man”. atau judul bukunya yah. Penyu tak mampu mengingatnya dengan pasti

Akan Tetapi dalam bab itu ada bagian yang menjelaskan tentang anak lelaki kecil melihat sosok anak perempuan sebayanya. Sama seperti pangeran kataknya melihat teman-teman sekarang. Aneh.

Yang Penyu tak menyangka, bahwa sebuah paper yang pernah ia tulis sebagai tugas kuliah. Membuatnya menghabiskan malam mengulas hal tersebut.

Saat ini ia harus menghadapi praktiknya. Dan sebanyak apapun buku yang pernah ia baca. Tak ada satu pun yang mampu membuatnya bereaksi santai saat dihadapkan pada kenyataan yang mirip dengan buku sosiologi tersebut. Bahkan Penyu tak mengerti harus berbuat apa? Berkata apa?

Penyu sadar bahwa ini adalah Peer-nya. Projectnya ke depan membentuk seorang pangeran yang berwawasan gender nantinya. Atau ini hanya reaksinya yang berlebihan, berpikir terlalu jauh.

Apapun itu? Ia tahu ia harus tetap duduk manis bersama pangeran kataknya. Kita akan banyak bicara soal perkawanan serta perbedaan jenis kelamin. Tak ketinggalan cara menyikapi perbedaan tersebut dengan baik. Dan tentu saja menggunakan bahasa yang dimengerti oleh anak berusia lima tahun setengah.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post